Sabtu, 11 Mei 2013

Boncengan versus Bandul kalung.

       Tanpa komunikasi segalanya bisa berantakan.Meski niat dan tujuannya baikkalau menyangkut dua kepentingan komunikasi sangat diperlukan.Apalagi kalau menyangkut hajat orang banyak.Jangan sekali kali meremehkannya.Apalagi mengambil keputusan sendiri wah gawat deh....bisa amburadul.Tidak percaya,simak kisah pendek berikut ini???.
       Muklis suami teladan yang amat sayang sama istrinya.Meski cuma sebagai buruh pabrik yang gajinya kecil toh ia tidak pernah berkeluh kesah.Dia amat rajin,hatinya amat iklas sekecil apapun gaji asal disukuri Insya Allah berkah akan diberikan.Demikian kalimat yang sering ia katakan pada sang istri.Sang istripun begitu ia amat bersyukur punya suami kang Muklis orangnya sabar dan tak pernah mengeluh walaupun pekerjaanya dipabrik amat berat.Tapi bukan rumah tangga namanya kalau tanpa masalah begitupun dengan Muklis.Pada satu hari sepulang bekerja Muklis melamun,ia memikirkan istrinya yang memakai kalung tanpa bandulannya rasanya Muklis ingin sekali membelikan kalung tersebut,demi menyenangkan hati istrinya yang sangat ia sayangi.Tapi uang darimana gajinya hanya cukup untuk makan dan sedikit keperluan rumah serta jajan anaknya bersekolah.Tapi biarlah sepeda ini akan aku jual saja daripada punya sepeda tapi tidak bisa memboncengkan istri.Gara gara boncenganya patah.Begitu pikir Muklis dalam hati......akan aku belikan bandul kalung untuk menyenangkan sang istri.Keesukan harinya tanpa berpikir lagi apalagi berembug degan istrinya Muklis pergi ke pasar.Menjual sepedanya dan membelikan istrinya sebuah bandulan kalung.Istriku pasti akan amat senang sekali begitu melihat aku pulang dan membawa bandul kalung idamanya...kata Muklis dalam hati sambil senyam senyum.
        Beda Muklis beda Marni istri Muklis,Marnipun diam diam punya rencana yang tidak sempat ia rundingkan.Ah....biar saja toh niat saya bagus,yaitu menjual kalungku untuk membelikan boncengan sepeda suamiku agar kalau bepergian bisa berboncengan, kangMuklis pasti akan sangat senang dan tambah sayang...biar saja aku tak pakai kalung.Gumam Marni dihati.Gampang kalau ada rejeki bisa beli lagi.Hari itu juga Marnipun pergi kepasar untuk menjual kalungnya dan membeli boncengan sepeda.Demi menyenenangkan hati sang suami yang sangat Marni sayangi.
        Begitu sampai dirumah Marni senyam senyum sambil mengelus boncengan sepeda yang masih dibungkus plastik,ia menunggu suaminya pulang duduk di ruang depan rumahnya yang kecil.Wajah Marni amat riang gembira.Suamiku kang Muklis pasti akan amat bersuka gita begitu melihat aku menunggu sambil memegang boncengan sepedanya.Aku pasti akan dipuji tak henti henti.Wah......SURPRISE...lah.
       Dari kejauhan Muklis tampak pulang berjalan kaki,wajahnya terlihat amat kecapaian tetapi terlihat pula bahwa Muklis juga sedang senang hatinya.Tak sedikitpun terlihat kesal,maklum saja ia telah mengorbankan sepeda kesayangannya demi menyenangkan hati sang istri yang amat ia sayangi itu.Istriku Marni pasti akan amat senang begitu melihat bandulan yang aku belikan,Marni pasti akan kelihatan tambah cantik.Kata Muklis dalam hatinya.sambil senyumnya dikulum.Ia tidak menyadari kalau istrinya Marni belum habis herannya kenapa suaminya jalan kaki.kemana sepedanya,rusak atau dipinjam sama temannya satu pabrik
      "Assalamualaikum....."
      "Waalaikum salam....."balas istrinya sambil tak lupa tersenyum,sperti pada kebiasaanya.
      "Dik Marni coba tebak apa yang aku bawa ini?"kata Muklis sanbil menunjukkan bungkusan kecil.Marni cuma diam saja.Rasa heranya belum hilang dari benaknya.
      "Ini bandul kalung,aku sengaja tidak ngomong ke adik,maksudku supaya ada kejutan"lanjut Muklis.Apa yang terjadi Marni bukan senag tapi Marni terkejut kebingungan.Bagaimana tidak bingung kalungnya telah ia jual untuk membeli boncengan sepeda suaminya.
     "Maaf kang...sepeda kakang kemana?"Marni mencoba beranikan diri bertanya.
     "Aku jual ni saya belikan bandulan kalung.........."jawabnya enteng,lho kalung adik dikemanakan,Marni diam sesaat.
     "Aku jual tak belikan ini boncengan sepeda kakang...."begitu mendengar jawaban istrinya alangkah kagetnya Muklis.Cilaka dah,gumamnya dalam hati,tapi muklis hanya diam ia tak berani menyalahkan istrinya.Ini salah dirinya juga kenapa tidak berembuk terlebih dahulu.
    "Maaf istriku ini salahku ......."pinta muklis sambil menatap istrinya yang tampak kebingungan.
    "Aku yang salah kang mestinya aku izin dahulu........."istrinya balas meminta sambil menggapai tangan suaminya dan menciumnya.
    Sekarang mereka berdua duduk lemas sambil memandangi bandul kalung dan boncengan sepeda.
    Muklis Muklis ........mau diapakan tuh bandul kalung sama boncengannya????
    Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha makanya rembug mas ya!!!!