Kamis, 13 Juni 2013

NYAMUK BIKIN SEMAPUT

       Pak Kusno memang bandel padahal dirumahnya sudah tersedia WC(water close) tapi untuk sekedar buang air saja harus ke jamban pinggir sungai dekat rumahnya.Katanya sumbeg kalau harus nongkrong diruangan yang cuma 1.5 mx2m.Tapi maklum kebiasaan pak Kusno memang begitu.Tidak seperti biasanya selepas Maghrib pak Kusno pergi pamit ke jamban dibawah pohon besar dekat rumahnya.Dengan cuma memakai kolor dan kaos oblong Pak Kusno bergegas ke sungai,untuk buang hajat besar.Dia tak berpikir kalau waktu selepas maghrib,nyamuk luar biasa banyaknya.Ah masa bodoh sudah kebelet pikirnya.
      Tapi sudah sekian lama dari sehabis maghrib sampai adzan isya selesai masa pak Kusno belum muncul juga.Kemana perginya?Masa lama betul wong cuma buang air besar saja kok sampai berjam jam.Pasti ada yang gak beres nikh begitu pikir istrinya.Kecurigaan sang istri memang sangat beralasan,pasalnya pak Kusno memang sering terbukti bohong.Pamitnya mau berak,e..ee jebul malah ngobrol diwarung sambil pasang togel yang dijual secara sembunyi sembunyi.Katanya lumayan kalau nembus.Sang istri makin gelisah saja demi memikirkan suaminya yang pamit buang air besar tapi sampai sekarang belum nogol juga.Kemana ni orang ko ga kapok kapok ya,awas ya nanti kalau pulang.Ancamnya dalam hati.Malam terus berjalan waktu sudah pukul 20.36 WIB.namun pak Kusno tetap belum pulang.......Sang istri yang semakin uring uringan memanggil anaknya yang lagi belajar.DSisuruhnya ia menyusul ayahnya diwarung atau masih dijamban.Berak batu mungkin bapakmu.Gerutu isterinya.
       "Coba kau susul bapakmu ngobrol diwarung atau masih berak batu hingga sampai begitu lama!"perintahnya sambil bersungut sungut
       "Iya mak tapi kemana dulu nyusulnya?"tanya sang anak.
       "Terserah kamu saja kesal aku..........."jawab ibunya sambil terus menggerutu.
       "Baik mak......" anak Kusno langsung beranjak pergi.Pertama ia nyusul kewarung lebih dulu,gampang kalau diwarung kosong bvaru disusl ke sungai.Ternyata pak Kusno tidak diwarung.Waduh berarti aku harus nyusul kejamban nih.....padahal tempatnya agak gelap ya kata anak Kusno dalam hati.Ah memang benar benar gelap.Pak pak panggilnya,tapi ko sepi waduh kemana ya.Alangkah kagetnya ia begitu mendapati ayahnya tergolek di dekat pohon besar itu.Pak pak ia mengguncang guncang badan ayahnya tapi tak bangun juga.Tanpa pikir panjang ia langsung pulang sambil teriak teriak kalau bapaknya semaput.Geger malam itu bahwa pak Kusno semaput,ada yang menduga karena kesambet konon katanya pohon itu ada penunggunya.Ada pula yang mengira kena serangan jantung ah pokoknya macam macamlah.Orang pintarpun didatangkan tapi pak Kusno belum siuman juga.Padahal mbah dukun sudah bekerja ekstera keras sudah bergelas gelas air ia semburkan.Mulutnya komat kamit baca mantera,tapi katanya Kusno kesurupan jin dan jinnya ketiduran itu sebabnya pak Kusno belum siuman juga.Mbah dukun minta istirahat ia kecapean maklumlah ia sudah agak tua,nafasnya sudah ia sembur semburkan.Tapi tiba tiba pak Kusno terbangun dari semaputnya,wajahnya terlihat bingung."aAh....ah...saya dimana ni?"tanya Kusno glagepan.Sang istri langsung memeluknya."Bapak dirumah....sudah aman pak,bapak kenapa sih ko pingsan?"tanya istrinya.Pak Kusno langsung bercerita panjang lebar bahwa ketika ia berak, anunya dirubung nyamuk,rupanya ia gemas ditaboklah nyamuk nyamuk itu dengan amat keras,ia lupa kalaunyamuk nyamuk itu hinggap di alat vitalnya.Ya semaputlah.Maka gelap selanjutnya.(Lha wong kontol ditabok sak emohe yo klenger ra)

Sabtu, 11 Mei 2013

Boncengan versus Bandul kalung.

       Tanpa komunikasi segalanya bisa berantakan.Meski niat dan tujuannya baikkalau menyangkut dua kepentingan komunikasi sangat diperlukan.Apalagi kalau menyangkut hajat orang banyak.Jangan sekali kali meremehkannya.Apalagi mengambil keputusan sendiri wah gawat deh....bisa amburadul.Tidak percaya,simak kisah pendek berikut ini???.
       Muklis suami teladan yang amat sayang sama istrinya.Meski cuma sebagai buruh pabrik yang gajinya kecil toh ia tidak pernah berkeluh kesah.Dia amat rajin,hatinya amat iklas sekecil apapun gaji asal disukuri Insya Allah berkah akan diberikan.Demikian kalimat yang sering ia katakan pada sang istri.Sang istripun begitu ia amat bersyukur punya suami kang Muklis orangnya sabar dan tak pernah mengeluh walaupun pekerjaanya dipabrik amat berat.Tapi bukan rumah tangga namanya kalau tanpa masalah begitupun dengan Muklis.Pada satu hari sepulang bekerja Muklis melamun,ia memikirkan istrinya yang memakai kalung tanpa bandulannya rasanya Muklis ingin sekali membelikan kalung tersebut,demi menyenangkan hati istrinya yang sangat ia sayangi.Tapi uang darimana gajinya hanya cukup untuk makan dan sedikit keperluan rumah serta jajan anaknya bersekolah.Tapi biarlah sepeda ini akan aku jual saja daripada punya sepeda tapi tidak bisa memboncengkan istri.Gara gara boncenganya patah.Begitu pikir Muklis dalam hati......akan aku belikan bandul kalung untuk menyenangkan sang istri.Keesukan harinya tanpa berpikir lagi apalagi berembug degan istrinya Muklis pergi ke pasar.Menjual sepedanya dan membelikan istrinya sebuah bandulan kalung.Istriku pasti akan amat senang sekali begitu melihat aku pulang dan membawa bandul kalung idamanya...kata Muklis dalam hati sambil senyam senyum.
        Beda Muklis beda Marni istri Muklis,Marnipun diam diam punya rencana yang tidak sempat ia rundingkan.Ah....biar saja toh niat saya bagus,yaitu menjual kalungku untuk membelikan boncengan sepeda suamiku agar kalau bepergian bisa berboncengan, kangMuklis pasti akan sangat senang dan tambah sayang...biar saja aku tak pakai kalung.Gumam Marni dihati.Gampang kalau ada rejeki bisa beli lagi.Hari itu juga Marnipun pergi kepasar untuk menjual kalungnya dan membeli boncengan sepeda.Demi menyenenangkan hati sang suami yang sangat Marni sayangi.
        Begitu sampai dirumah Marni senyam senyum sambil mengelus boncengan sepeda yang masih dibungkus plastik,ia menunggu suaminya pulang duduk di ruang depan rumahnya yang kecil.Wajah Marni amat riang gembira.Suamiku kang Muklis pasti akan amat bersuka gita begitu melihat aku menunggu sambil memegang boncengan sepedanya.Aku pasti akan dipuji tak henti henti.Wah......SURPRISE...lah.
       Dari kejauhan Muklis tampak pulang berjalan kaki,wajahnya terlihat amat kecapaian tetapi terlihat pula bahwa Muklis juga sedang senang hatinya.Tak sedikitpun terlihat kesal,maklum saja ia telah mengorbankan sepeda kesayangannya demi menyenangkan hati sang istri yang amat ia sayangi itu.Istriku Marni pasti akan amat senang begitu melihat bandulan yang aku belikan,Marni pasti akan kelihatan tambah cantik.Kata Muklis dalam hatinya.sambil senyumnya dikulum.Ia tidak menyadari kalau istrinya Marni belum habis herannya kenapa suaminya jalan kaki.kemana sepedanya,rusak atau dipinjam sama temannya satu pabrik
      "Assalamualaikum....."
      "Waalaikum salam....."balas istrinya sambil tak lupa tersenyum,sperti pada kebiasaanya.
      "Dik Marni coba tebak apa yang aku bawa ini?"kata Muklis sanbil menunjukkan bungkusan kecil.Marni cuma diam saja.Rasa heranya belum hilang dari benaknya.
      "Ini bandul kalung,aku sengaja tidak ngomong ke adik,maksudku supaya ada kejutan"lanjut Muklis.Apa yang terjadi Marni bukan senag tapi Marni terkejut kebingungan.Bagaimana tidak bingung kalungnya telah ia jual untuk membeli boncengan sepeda suaminya.
     "Maaf kang...sepeda kakang kemana?"Marni mencoba beranikan diri bertanya.
     "Aku jual ni saya belikan bandulan kalung.........."jawabnya enteng,lho kalung adik dikemanakan,Marni diam sesaat.
     "Aku jual tak belikan ini boncengan sepeda kakang...."begitu mendengar jawaban istrinya alangkah kagetnya Muklis.Cilaka dah,gumamnya dalam hati,tapi muklis hanya diam ia tak berani menyalahkan istrinya.Ini salah dirinya juga kenapa tidak berembuk terlebih dahulu.
    "Maaf istriku ini salahku ......."pinta muklis sambil menatap istrinya yang tampak kebingungan.
    "Aku yang salah kang mestinya aku izin dahulu........."istrinya balas meminta sambil menggapai tangan suaminya dan menciumnya.
    Sekarang mereka berdua duduk lemas sambil memandangi bandul kalung dan boncengan sepeda.
    Muklis Muklis ........mau diapakan tuh bandul kalung sama boncengannya????
    Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha makanya rembug mas ya!!!!                 

Jumat, 26 April 2013

MENDADAK PINSAN.

Pada satu ketika, sang ayah yang sedang terbaring lemah karena sakit mengumpulkan empat anaknya. Tampaknya beliu seperti tahu bahwa umurnya tinggal tersisa sedikit lagi.Dia amat gelisah memikirkan keempat anaknya yang masing masing kini jauh berada dikota.Kecuali Farid anak yang terahir,..ia sekarang lagi bersusah susah mencari pekerjaan dengan modal ijazah SMA.Amat berbeda dengan kakak-kakaknya yang masing-masing sudah hidup serba kecukupan.Mempunyai pekerjaan serta seabrek jabatan yang mentereng.Dan mungkin lantaran kesibukan itulah mereka semua jadi tidak sempat menengok ayahnya,jangankan menengok berkirim beritapun tidak meski hanya sekedar pesan singkat atau SMS.Tapi sudahlah biarkan saja yang jelas ini bukanlah contoh bagus,maka jangan ditiru okkkkkeeee!                          Setelah keempatnya berkumpul sang ayah mulai berkata
   
 Sang Ayah "Anak-anakku semua ada yang ingin ayah sampaikan pada kalian berempat" begitu kata             
                    sang ayah membuka percakapan
Farid          "Iya ayah apa yang ingin ayah katakan mumpung kami telah berkumpul disini sampaikan saja!"
Anak 1       "Katakan pak kami pulang kesini itu membuang waktu banyak padahal waktu yang amat ber
                    harga kalau cuma dibandingkan dengan menengok orang tua yang sakit-sakitan"terhenyak sang
                     ayah mendengar ucapan anak yang telah dibesarkan disekolahkan begitu ketusnya,tidak sedikit
                    pun punya perhatian pada dirinya.
Anak 2         "Bener.' jangan manjalah pak. kami ini punya tanggung jawab yang amat besar dibanding denga
                     n sekedar nungguin orang sakit,bapak kan udah tua jadi wajar dong kalau sakit-sakitan"
Anak 3        "Sudahlahlah pak ngomong!!!!" bentak sianak nomer tiga
Farid           "Masss jangan kasar begitu kan ayah belum selesai bicara,tapi kalian sudah nyrocos
                     terus.bagaimana kita bisa tahu akan apa yang ayah katakan" begitu Farid memotong.
Sang Ayah   "Sudahlah Farid biarkan saja "begitu memelas kalimat sang ayah,namun semuanya tidaklah 
                     membuat ketiga anak-anaknya jadi lunak malah sebaliknya makin ketus saja.
Anak 1         "Memang bukannya makin tua makin bijaksana malah makin ga ngerti kalau kami begitu ba
                     nyak kesibukan.....gawe mangkel saja...pak-pak"
Sang Ayah    "Baiklah anak anakku kalian bertiga sudah ayah sekolahkan,hanya Farid saja yang hanya tamat
                      SMA karena Farid menolak kuliah dan sampai saat ini belum bekerja,tidak mengapa karena
                      itu pilihannya toh Farid iklas"sejenak sang ayah terdiam,....;.ayah sudah menulis wasiat untuk 
                      kalian berempat yaitu tentang harta simpanan ayah yang masing masing senilai 1milyar"
Anak123       "Pak mana lekas buruan,iya aku ws ora sabar,ra usah kesuwen"potong ketiga anaknya
                      serempak
Sang Ayah     "Ayah ingin bertanya pada kalian berempat setelah uang kalian peroleh akan kalian apakan?ja
                      wab satu persatu!"
Anak 1         "Uang tersebut akan aku gunakan untuk mengebangkan perusahaan" sang ayah manggut
                     manggut
Anak 2         "Saya mau magang jadi anggota DPR,dengan uang sebanyak itu saya sangat yakin akan berhasi
                     jadi anggota dewan" sang ayah hanya terdiam
Anak3          "Saya ingin buka cabang baru untuk restoran di Kalimantan Timur"sang ayah juga diam sambil                      melirik sibungsu Farid,seakan memberi isyarat agar siFarid juga memberi jawaban
Farid            "Semua uang yang berikan nantinya akan kami wakafkan untuk Masjid"jawab Farid singkat
Sang Ayah   ".................................................................."hanya terdiam matanya berkacakaca.Namun
                    raut wajah terlihat bercahaya menggambarkan bahwa  hatinya amat bahagia
Anak123     :Masing-masing amat murung sangat keheranan,kaget bukan alang kepalang campur aduk jadi s
                    satu
Sang Ayah  "Farid benarkah apa yang aku dengar,sudahkah kau pikir dengan matang,tidakah kau akan me
                   nyesal?"
Farid          "Tidak ayah demi Allah aku iklas"begitu mendengar kata ikhlas ketiga kakak Farid tiba-tiba
                   pingsan,semaput lemas.............tergolek tidak berdaya.

                   Wasalam,sekian saja ya.